Bayang-Bayang Shiffin di Langit Timur Tengah
Ketika rudal saling meluncur antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan Amerika Serikat dan sekutu Teluknya, banyak yang melihatnya sebagai konflik geopolitik biasa. Tapi bagi yang membaca sejarah dengan jujur, ada gema lama yang terasa: gema perpecahan internal umat Islam sendiri.
Segalanya seperti mengulang satu pola klasik - perebutan legitimasi, perebutan tafsir kepemimpinan, dan perebutan kuasa.
Dari Shiffin ke Karbala: Awal Luka Panjang
Konflik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan bukan sekadar perang politik. Itu adalah momen ketika umat Islam pertama kali terbelah dalam skala besar.
Perang Shiffin melahirkan kompromi politik yang dipersoalkan secara moral. Dari sana lahir Khawarij. Dari sana juga lahir identitas Syiah.
Lalu tragedi Karbala, ketika Husain bin Ali dibunuh di bawah kekuasaan Yazid bin Muawiyah. Sejak saat itu, politik tidak lagi netral - ia menjadi soal luka, martabat, dan memori kolektif.
Dan luka yang diwariskan tidak pernah benar-benar sembuh.
Iran: Negara atau Identitas Sejarah?
Revolusi 1979 yang dipimpin Ruhollah Khomeini bukan hanya mengganti rezim. Ia menghidupkan kembali narasi perlawanan ala Karbala: berdiri melawan tirani, meski harus sendirian.
Iran hari ini bukan sekadar negara Syiah. Ia membawa misi ideologis: menantang dominasi Barat dan Israel. Di sinilah konflik modern menemukan bahan bakarnya.
Namun ironinya, negara-negara Muslim Sunni di Teluk justru lebih takut pada Iran dibanding Israel. Mengapa? Karena bayang-bayang perpecahan lama masih hidup dalam politik modern.
Musuh Eksternal, Tapi Luka Internal
Fakta pahitnya: Israel tidak perlu memecah umat Islam. Umat Islam sudah lebih dulu terbelah.
Ketika Sunni dan Syiah saling curiga, ketika politik identitas lebih kuat daripada persatuan strategis, maka kekuatan eksternal hanya tinggal memainkan papan catur.
Konflik Iran vs Israel bukan perang Sunni-Syiah secara langsung. Tapi polarisasi Sunni-Syiah membuat dunia Islam tidak pernah punya posisi bersama yang kuat.
Bayangkan jika sejak awal konflik Ali-Muawiyah diselesaikan dengan prinsip musyawarah yang matang dan rekonsiliasi jangka panjang. Mungkin sejarah berbeda. Tapi sejarah tidak mengenal “andai”.
Pelajaran yang Terlambat Disadari
Perpecahan internal selalu lebih mahal daripada ancaman eksternal.
Romawi runtuh bukan hanya karena serangan luar, tapi karena korupsi dan konflik dalam. Dinasti Abbasiyah melemah bukan karena Mongol tiba-tiba kuat, tapi karena politik internal yang rapuh.
Hari ini pun demikian.
Selama umat Islam sibuk mempertahankan narasi kemenangan masa lalu atau luka masa lalu, mereka gagal membangun visi masa depan bersama.
Kritik yang Harus Berani Diucapkan
Masalah terbesar umat bukan Syiah atau Sunni. Masalahnya adalah:
- Kepemimpinan yang menjadikan agama alat legitimasi kuasa
- Elite politik yang memanfaatkan identitas sektarian
- Umat yang lebih emosional daripada strategis
Konflik Iran vs Israel hanyalah salah satu episode dari ketidakmampuan dunia Islam membangun kesatuan arah.
Dan ini bukan soal siapa benar dalam sejarah. Ini soal apakah kita belajar atau tidak.
Penulis: Sabri (Pendamping Desa)
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin