Pemerintah Desa Labbo Gelar Musyawarah Rembug Stunting Perkuat Sinergi Wujudkan Generasi Sehat
Bantaeng – Pemerintah Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, menggelar Musyawarah Rembug Stunting Tahun 2026 di Aula Kantor Desa Labbo pada Rabu (8/7/2026) mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penyusunan langkah strategis pemerintah desa untuk mempercepat upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor.
Musyawarah tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Labbo, perwakilan Camat Tompobulu, Ketua dan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Labbo, Kepala Dusun Panjang Utara, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Bidan Dusun, kader Posyandu, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Hasanuddin Makassar Angkatan 116.
Sejak kegiatan dimulai, suasana musyawarah berlangsung penuh semangat dan partisipatif. Seluruh peserta menunjukkan komitmen yang sama untuk memperkuat upaya pencegahan stunting sebagai salah satu program prioritas pembangunan desa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum penyampaian program, tetapi juga wadah bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan masukan yang dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat Desa Labbo.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Labbo menegaskan bahwa persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah desa, keluarga, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur lainnya.
Ia mengajak seluruh peserta untuk terus memperkuat koordinasi dalam mendampingi keluarga yang memiliki balita maupun ibu hamil agar mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal. Selain itu, pemerintah desa berkomitmen mendukung berbagai program yang berpihak pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui penganggaran dan kebijakan desa.
Sementara itu, perwakilan Camat Tompobulu dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan Musyawarah Rembug Stunting yang dinilai sebagai langkah strategis dalam menyusun program pembangunan desa berbasis kebutuhan masyarakat. Ia berharap seluruh usulan yang dihasilkan dalam forum tersebut dapat menjadi bagian dari perencanaan desa sehingga mampu memberikan dampak nyata dalam upaya pencegahan stunting.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, aparat keamanan, lembaga desa, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Hal senada juga disampaikan Babinsa Desa Labbo. Dalam arahannya, Babinsa menegaskan kesiapan unsur TNI untuk terus mendukung setiap program pemerintah desa, termasuk kegiatan pencegahan stunting. Ia menilai keberhasilan program kesehatan masyarakat memerlukan keterlibatan aktif seluruh pihak, sehingga pengawasan dan pendampingan di lapangan dapat berjalan secara maksimal.
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh Ashar, anggota BPD Labbo. Forum berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta mengenai tantangan yang masih dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, khususnya di tingkat Posyandu dan Poskesdes.
Berbagai usulan strategis kemudian disepakati sebagai rekomendasi Musyawarah Rembug Stunting Tahun 2026. Usulan pertama adalah pemeriksaan Lingkar Lengan Atas (LILA) secara rutin sebagai langkah deteksi dini terhadap risiko kekurangan gizi pada ibu hamil. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk memastikan kondisi kesehatan ibu sejak masa kehamilan sehingga dapat mencegah lahirnya bayi dengan risiko stunting.
Usulan berikutnya adalah penyediaan arena bermain bagi anak-anak di kawasan Poskesdes. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih ramah anak sekaligus mendukung tumbuh kembang balita melalui aktivitas bermain yang edukatif.
Peserta musyawarah juga mengusulkan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga. Melalui penanaman sayuran, buah-buahan, maupun tanaman bergizi lainnya, masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri sekaligus meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga.
Selain itu, forum mengusulkan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) mengenai pencegahan pernikahan dini. Langkah tersebut dipandang penting sebagai salah satu upaya menekan risiko kehamilan usia muda yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan anak.
Dalam bidang edukasi, peserta juga menekankan perlunya sosialisasi yang lebih maksimal kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting. Edukasi diharapkan dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan sehingga informasi mengenai pola asuh, gizi seimbang, sanitasi, dan kesehatan ibu serta anak dapat dipahami secara luas.
Tidak kalah penting, peserta mengusulkan pengadaan obat-obatan di Poskesdes agar pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal. Ketersediaan obat dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pelayanan kesehatan di tingkat desa.
Forum juga merekomendasikan adanya dukungan penuh dari tiga pilar, yakni pemerintah desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, dalam mengawal sasaran Posyandu. Keterlibatan tiga pilar diharapkan mampu meningkatkan kehadiran ibu hamil, balita, serta masyarakat pada setiap kegiatan pelayanan kesehatan sehingga cakupan pelayanan semakin maksimal.
Usulan terakhir yang menjadi perhatian peserta adalah pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada sasaran yang membutuhkan. Program tersebut diharapkan mampu membantu pemenuhan kebutuhan gizi balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting di Desa Labbo.
Melalui Musyawarah Rembug Stunting ini, Pemerintah Desa Labbo berharap seluruh rekomendasi yang telah disepakati dapat diakomodasi dalam perencanaan pembangunan desa tahun 2026. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, lembaga desa, kader Posyandu, akademisi, dan masyarakat, upaya percepatan penurunan stunting di Desa Labbo diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Musyawarah ini menjadi bukti nyata komitmen bersama bahwa pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat demi menciptakan generasi Desa Labbo yang lebih sehat, cerdas, dan mampu menjadi penerus pembangunan di masa mendatang.
Penulis : Erman AT
Editor : Tim Redaksi Sapa Desa
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin