Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 Wilayah Makassar baru saja menginisiasi langkah konkret di Kabupaten Bantaeng melalui program kerja bertajuk "Dari Dapur

25 Januari 2026
ERMAN
Dibaca 44 Kali
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 Wilayah Makassar baru saja menginisiasi langkah konkret di Kabupaten Bantaeng melalui program kerja bertajuk "Dari Dapur

BANTAENG – Kesadaran akan pengelolaan lingkungan hidup kini mulai menyentuh lini terkecil dalam masyarakat, yakni dapur rumah tangga. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 Wilayah Makassar baru saja menginisiasi langkah konkret di Kabupaten Bantaeng melalui program kerja bertajuk "Dari Dapur ke Kebun".

​Bertempat di Dusun Ganting, Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, para mahasiswa mengedukasi warga mengenai pemanfaatan limbah organik rumah tangga untuk diolah menjadi Mikroorganisme Lokal (MOL). Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 16 Januari 2026, pukul 14.00 WITA ini, dihadiri dengan antusias oleh warga Dusun Ganting dan sekitarnya yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani.

​Mengubah Sampah Menjadi Berkah

​Latar belakang program ini berangkat dari pengamatan tim KKN Unhas terhadap pola pembuangan sampah rumah tangga di Desa Labbo yang belum terkelola dengan optimal. Banyak sisa sayuran, buah-buahan, dan nasi basi hanya dibuang begitu saja, padahal memiliki potensi besar sebagai nutrisi tanaman.

​Koordinator Program, Vanessa Rosari Ananda, menjelaskan bahwa MOL merupakan cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme yang bermanfaat untuk mempercepat penghancuran bahan organik.

​"Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat. Sampah dapur bukan sekadar kotoran yang harus dibuang, tapi bisa menjadi aset bagi kebun mereka. Dengan MOL, warga bisa memangkas biaya pembelian pupuk kimia dan beralih ke pertanian yang lebih organik dan berkelanjutan," ujar Vanessa di hadapan para peserta.

​Edukasi Praktis: Sederhana dan Ekonomis

​Dalam demonstrasi yang dilakukan, tim KKN Unhas menunjukkan betapa mudahnya membuat MOL dengan alat dan bahan yang tersedia di rumah. Bahan utama seperti sisa buah-buahan atau sayuran dicampur dengan sumber karbohidrat (seperti air cucian beras) dan sumber gula (seperti gula merah atau molase) sebagai energi bagi mikroba.

​Warga diajarkan cara melakukan fermentasi dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga cairan tersebut siap digunakan. Cairan MOL ini nantinya dapat berfungsi ganda: sebagai dekomposer (pembuat kompos) maupun sebagai pupuk hayati cair yang disemprotkan langsung ke tanaman.

​"Metode ini sangat cocok diterapkan di Dusun Ganting karena bahannya gratis dan cara buatnya sangat simpel. Kami memberikan pendampingan agar warga tidak ragu mencoba di rumah masing-masing," tambah Vanessa.

​Antusiasme Warga dan Dukungan Pemerintah Desa

​Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga. Ibu-ibu rumah tangga yang hadir mengaku baru menyadari bahwa air cucian beras dan sisa sayuran yang selama ini mereka buang memiliki nilai manfaat yang tinggi untuk kesuburan kebun di halaman rumah mereka.

​Salah satu warga Dusun Ganting menyatakan bahwa edukasi ini sangat membantu, terutama di tengah naiknya harga pupuk di pasaran. "Sangat membantu karena kami punya banyak sisa sayur di dapur. Selama ini hanya dibuang ke belakang rumah. Ternyata bisa jadi obat untuk tanaman supaya lebih subur," pungkasnya.

​Pihak pemerintah dusun setempat juga memberikan apresiasi tinggi. Program "Dari Dapur ke Kebun" dinilai sejalan dengan visi Desa Labbo untuk menjadi desa yang mandiri dan berwawasan lingkungan. Integrasi antara limbah rumah tangga dan kebutuhan perkebunan dianggap sebagai solusi cerdas bagi sirkulasi ekonomi mikro di desa tersebut.

​Harapan untuk Keberlanjutan

​Tujuan jangka panjang dari program ini adalah terciptanya kemandirian masyarakat dalam penyediaan pupuk organik. Mahasiswa KKN Unhas berharap, setelah masa pengabdian mereka berakhir, warga Dusun Ganting tetap konsisten memproduksi MOL secara mandiri.

​Melalui gerakan ini, Desa Labbo tidak hanya selangkah lebih maju dalam penanganan masalah sampah, tetapi juga menuju penguatan sektor pertanian yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Inovasi dari tangan mahasiswa ini membuktikan bahwa solusi besar seringkali dimulai dari langkah kecil di dapur rumah sendiri.

​Penulis: Erman AT

Editor: Tim Redaksi LabboNews