Melalui Rembuk Desa Labbo Dengar Suara Perempuan, Anak, Lansia dan Disabilitas: Wujud Nyata Pembangunan yang Inklusif dan Peduli

06 Agustus 2025
Administrator
Dibaca 54 Kali
Melalui Rembuk Desa Labbo Dengar Suara Perempuan, Anak, Lansia dan Disabilitas: Wujud Nyata Pembangunan yang Inklusif dan Peduli

Labbo, Bantaeng – Udara pagi di Kantor Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, terasa hangat bukan hanya karena sinar matahari yang menembus jendela, tapi juga karena suasana yang dipenuhi harapan. Pada Sabtu (02/08/2025) pukul 09.00 WITA, sebanyak 75 orang dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu forum penting: Rembuk Stunting dan Musyawarah Perempuan, Anak, Lansia dan Disabilitas.

Di antara peserta yang hadir, terlihat Ibu Narda (52), seorang ibu rumah tangga sekaligus pengasuh cucu yang sedang dalam masa pertumbuhan. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan harapannya kepada forum. “Saya cuma ingin cucu saya tumbuh sehat. Kadang kami bingung harus beri makan apa yang bergizi tapi juga terjangkau,” ujarnya lirih. Kisah seperti ini menjadi potret nyata betapa isu stunting bukan hanya angka, melainkan tentang wajah-wajah yang kita kenal dan sayangi.

Rembuk stunting kali ini tak sekadar pertemuan teknis, melainkan forum yang menyentuh akar persoalan masyarakat. Kepala Desa Labbo membuka kegiatan dengan penuh semangat. Dalam sambutannya, beliau menegaskan, "Musyawarah ini bukan hanya forum diskusi, tapi wujud nyata bahwa Desa Labbo hadir untuk semua. Setiap usulan, setiap kebutuhan, dan setiap harapan dari kelompok rentan akan menjadi dasar perencanaan pembangunan desa yang lebih responsif dan merata."

Sementara itu, Ilham Canning Plt. Camat Tompobulu yang turut hadir mengapresiasi inisiatif Desa Labbo dalam mengintegrasikan aspirasi kelompok rentan ke dalam dokumen perencanaan desa seperti RKP Desa dan APBDes. “Langkah ini sangat penting agar kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari,” tuturnya.

Tujuan utama dari rembuk ini adalah menyepakati prioritas penanganan stunting berdasarkan data dan hasil diskusi warga sebelumnya. Dengan keterlibatan langsung lintas sektor—mulai dari bidan desa, kader posyandu, perangkat desa hingga tokoh masyarakat—rembug ini menjadi ruang sinergi dan komitmen bersama untuk menurunkan angka stunting di desa secara berkelanjutan.

Tak hanya itu, momen ini juga digunakan sebagai ruang penting bagi Musyawarah Perempuan, Anak, Lansia, dan Penyandang Disabilitas. Suara mereka yang kerap terabaikan, hari itu menjadi sorotan utama. Pak Ambo, ayah dari anak disabilitas, menyampaikan langsung kebutuhannya. “Kami butuh akses jalan yang ramah kursi roda dan bantuan alat bantu dengar untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Pendamping Desa yang turut memfasilitasi kegiatan menjelaskan, musyawarah ini bertujuan untuk menggali kebutuhan kelompok rentan agar terakomodasi dalam perencanaan pembangunan. “Kita ingin desa membangun untuk semua, tanpa terkecuali,” ungkapnya.

Melalui forum ini, sejumlah usulan strategis berhasil dicatat, antara lain: penyediaan makanan tambahan bagi balita rawan stunting, pembangunan fasilitas umum ramah lansia dan difabel, penyuluhan kesehatan reproduksi untuk perempuan, serta pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga.

BPD Desa Labbo turut menegaskan bahwa semua usulan akan dikawal masuk ke dalam RKP dan APBDes 2026. “Kami komitmen, tidak ada lagi pembangunan yang hanya menyoal infrastruktur tanpa memperhatikan kelompok rentan,” ujar salah satu perwakilan BPD.

Di akhir kegiatan, suasana berubah hangat dan penuh semangat. Tak ada lagi sekat antara aparat desa, tokoh masyarakat, dan warga. Semua merasa dilibatkan. Semua merasa penting.

Karena bagi Desa Labbo, membangun bukan hanya soal jalan dan gedung. Tapi juga tentang memastikan setiap anak bisa tumbuh sehat, setiap lansia merasa dihargai, setiap perempuan punya suara, dan setiap warga—tak peduli apapun kondisinya—punya ruang yang setara untuk hidup dan berkembang.