Mengayuh Arus Persahabatan KKN Gelombang 115 Unhas Hadirkan Samudera Empati di Desa Labbo
LABBO, BANTAENG – Fenomena perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mengambil langkah preventif melalui sebuah inisiatif kreatif. Selama dua hari, Senin dan Selasa, 12-13 Januari 2026, mereka menggelar program bertajuk "Samudera Empati: Belajar dari Laut untuk Menjadi Teman Baik."
βKegiatan yang dipusatkan di dua sekolah, yakni MIS Al Hidayah dan SDN 59 Labbo, dimulai sejak pukul 09.00 WITA. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai sosialisasi searah, melainkan sebuah perjalanan edukatif yang mengajak siswa menyelami nilai-nilai kemanusiaan melalui analogi ekosistem laut yang kaya akan makna.
βFilosofi Laut dalam Karakter Siswa
βKoordinator program yang juga akrab disapa sebagai "Kepala Suku" oleh tim KKN, Lusiana, menjelaskan bahwa pemilihan tema laut terinspirasi dari kekayaan maritim Sulawesi Selatan sekaligus cerminan kehidupan sosial. Dalam program ini, siswa diajak memahami bahwa harmoni di lautan hanya tercipta jika setiap makhluk menjalankan perannya tanpa saling merusak.
β"Kami ingin siswa membayangkan sekolah sebagai sebuah samudera yang luas. Di sana ada berbagai jenis ikan dengan warna dan bentuk yang berbeda, persis seperti keragaman karakter siswa. Jika ada satu 'predator' yang mulai merusak ketenangan, maka seluruh keindahan ekosistem akan hilang," jelas Lusiana di sela-sela kegiatan di SDN 59 Labbo.
βPendekatan ini terbukti efektif menarik minat siswa. Dibandingkan menggunakan istilah hukum yang berat, para mahasiswa KKN Unhas menggunakan istilah-istilah seperti "Arus Kebaikan" atau "Terumbu Karang Perlindungan" untuk menanamkan nilai-nilai empati.
βEdukasi Psikologis dan Penegasan Hukum
βMeski dibalut dengan kemasan yang kreatif, substansi dari program ini tetap berpijak pada landasan yang kuat. Para mahasiswa memberikan pemahaman psikologis mengenai dampak jangka panjang perundungan bagi korban, seperti hilangnya rasa percaya diri hingga trauma mendalam.
βSelain itu, aspek hukum juga menjadi poin penting yang disampaikan. Siswa diberi pengertian bahwa tindakan perundungan, baik fisik maupun verbal (seperti mengejek di media sosial), memiliki konsekuensi hukum yang nyata. Edukasi ini bertujuan untuk memberikan batasan tegas antara bercanda dan melakukan tindakan kriminal.
β"Penting bagi anak-anak untuk tahu bahwa kata-kata bisa melukai lebih dalam daripada luka fisik. Kami ingin membangun kesadaran bahwa menjadi teman yang baik adalah pilihan yang keren, sementara menjadi perundung adalah tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain," tambah salah satu anggota tim KKN.
βMembangun Komitmen di Atas "Peta Samudera"
βAntusiasme siswa terlihat jelas saat mereka mengikuti sesi kreatif. Di akhir acara, para peserta diminta menuliskan janji mereka untuk tidak melakukan perundungan di atas sebuah kain putih panjang yang dianalogikan sebagai "Peta Samudera Persahabatan." Tanda tangan dan pesan-pesan penuh semangat seperti "Aku Teman yang Baik" dan "Stop Bullying" menghiasi kain tersebut sebagai simbol komitmen bersama.
βKepala MIS Al Hidayah memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran mahasiswa KKN Unhas. Menurutnya, metode pengajaran yang dibawa mahasiswa jauh lebih segar dan mudah diterima oleh anak didik mereka. "Anak-anak sangat senang. Kehadiran kakak-kakak mahasiswa memberikan suasana baru yang edukatif. Kami berharap semangat 'Samudera Empati' ini terus terjaga meskipun program ini telah usai," ungkapnya.
βLangkah Nyata untuk Sekolah Aman
βProgram "Samudera Empati" ini merupakan salah satu dari rangkaian program kerja utama KKN Gelombang 115 Unhas di Desa Labbo. Fokus utama mereka adalah menciptakan lingkungan sekolah yang aman, harmonis, dan saling menghargai—sebuah ekosistem di mana setiap siswa merasa terlindungi dan dihargai identitasnya.
βDengan berakhirnya kegiatan ini pada Selasa siang, mahasiswa KKN Unhas berharap riak kecil kebaikan yang mereka mulai di MIS Al Hidayah dan SDN 59 Labbo dapat berubah menjadi gelombang perubahan positif. Harapannya, tidak ada lagi siswa yang merasa terancam di tempat mereka seharusnya menimba ilmu.
βLaut memberikan pelajaran bahwa meski luas dan dalam, ia tetap bisa tenang jika isinya saling menjaga. Begitu pula sekolah di Desa Labbo, diharapkan menjadi tempat yang tenang bagi setiap anak untuk berenang menggapai mimpi-mimpi mereka.
βPenulis: Erman AT
Editor: Tim Redaksi LabboNews
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin